Dalam kehidupan sehari-hari, hak dan kewajiban harus berjalan beriringan. Jika seseorang hanya menuntut hak tanpa melaksanakan kewajiban, maka akan muncul rasa tidak adil. Misalnya, seorang anak ingin selalu bermain tetapi tidak mau merapikan mainannya. Hal ini bisa membuat rumah berantakan dan orang lain merasa terganggu. Sebaliknya, jika seseorang hanya dibebani kewajiban tanpa diberi hak, ia akan merasa tidak dihargai. Bayangkan seorang anak yang selalu diminta membantu pekerjaan rumah, tetapi tidak diberi kesempatan untuk beristirahat atau bermain. Anak tersebut akan merasa lelah dan tidak bahagia.
Keseimbangan antara hak dan kewajiban membuat kehidupan bersama lebih harmonis. Contohnya, ketika anak mendapat hak makan, ia juga berkewajiban makan dengan tertib dan tidak membuang makanan. Ketika anak mendapat hak bermain, ia berkewajiban merapikan mainan setelah selesai. Dengan cara ini, setiap anggota keluarga merasa dihargai dan bertanggung jawab satu sama lain.
Ilustrasi Cerita
Suatu sore, Rani sedang asyik bermain boneka di ruang tamu. Ia merasa senang karena orang tuanya memberi waktu untuk bermain setelah belajar. Itu adalah hak Rani sebagai anak, yaitu mendapatkan kesempatan bermain. Namun, ketika permainan selesai, boneka dan mainan lain berserakan di lantai. Ibu mengingatkan, “Rani, setelah bermain jangan lupa merapikan mainanmu, ya.” Rani pun segera mengumpulkan boneka dan menaruhnya kembali di kotak mainan. Itu adalah kewajiban Rani, yaitu menjaga kerapian rumah.
Rani merasa bangga karena sudah melaksanakan kewajiban setelah menerima hak. Ia belajar bahwa hak dan kewajiban harus berjalan bersama. Dengan begitu, rumah tetap rapi, orang tua senang, dan Rani bisa kembali bermain dengan nyaman di lain waktu.
